Puasa Ramadhan 2018

Tahun lalu (2017) Allah memberikan kesempatan saya hamil juga saat menjelang puasa. Kondisi saat itu saya kuat, saya tidak mual terlalu banyak, saya gampamg makan dan saya bisa puasa hampir penuh, cuma bolong 1 hari. Tapi ternyata Allah masih mengajari saya tentang arti hidup. Bahwa semua yang ada di dunia ini adalah milikNya. Saya mengalami keguguran di usia kandungan 12 minggu.

Sebelum puasa 2018, Alhamdulillah saya dinyatakan hamil lagi. Saya lemah dan letih, tidak banyak makan, dan mual. Sebenarnya dokter kamdungan saya membolehkan saya puasa, katanya sayalah yang tahu kondisinya apakah memungkinkan atau tidak untuk puasa. Saya berkonsultasi sama Ibu juga. Saya berniat untuk puasa selang seling untuk menjaga kondisi yaitu sehari puasa dan sehari tidak atau dua hari puasa dan sehari tidak.

Tepat di hari pertama puasa saya sedang lemes lemesnya. Saya sudah sahur, tapi karena muntah dan lemes akhirnya saya batalkan puasanya. Selanjutnya Suami melarang saya puasa karena melihat kondisi. Katanya “berdiri aja ga kuat, mau puasa, ga usah”.

Saya mengambil keringanan sebagai Ibu Hamil untuk tidak puasa. Terkadang saya ingin sekali puasa, tapi kemudian saya ingat bahwa bisa jadi saya kuat, tapi saya tidak tahu apalah calon bayi kuat. Selama sebulan persis saya tidak puasa.

Menjelang lebaran, suami membayarkan fidyah saya penuh berupa uang dan beras. Semoga nanti saya mampu membayar hutang puasa tersebut. Banyak banget ya hutangnya, hikss….

Untuk para calon ibu lain, apa yang saya alami bisa jadi berbeda dengan yang bunda alami. Jangan lupa selalu konsultasikan dengan dokter serta ingat bahwa kekuatan yang kita rasakan di tubuh kita belum tentu sama dengan kekuatan janin yang ada di dalam perut kita.

Advertisements

Ke Amerika saat hamil

Saya mendapatkan kesempatan untuk belajar di Florida selama satu minggu. Awalnya saya mulai ragu saat mengetahui saya hamil akan tetapi suami meyakinkan untuk tetap berangkat. Alasannya adalah ini kesempatan langka dan usia kandungan saat berangkat sudah 3 bulan, insyaallah aman.

Saya mempersiapkan semuanya, VISA, tiket dll. Tak lupa juga konsultasi ke dokter kandungan. Dokter saya bilang ga masalah. Kondisi saya masih suka lemes dan mual, tapi kata dokter gapapa.

H-9 keberangkatan saya panik karena terjadi pendarahan. Persiapan sudah siap semua dan tidak memungkinkan untuk digantikan orang lain. Saya segera ke dokter, Alhamdulillah tidak terjadi apa apa. Tapi saya sudah siap seandainya gagal berangkat. Saya memutuskan jika seminggu kedepan tidak membaik dan dokter tidak mengijinkan, maka saya tidak akan berangkat.

H-2 saya kembali ke dokter untuk memastikan kondisi saya. Dokter mengijinkan dan memberikan beberapa obat sebagai bekal. Dokter saya tenang sekali, beliau tidak memperlihatkan keraguan atau memberikan opsi saya untuk tidak berangkat.

Tepat diusia kandungan 13 minggu saya berangkat, diantar suami ke bandara internasional Juanda. Saya membawa pembalut untuk jaga jaga jika terjadi pendarahan. Dan saya juga didaftarkan asuransi selama perjalanan untuk mengantisipasi kejadian tak terduga. Menurut dokter naik pesawatnya tidak masalah, yang akan jadi masalah adalah jika saya terlalu capek. Maka saya berusaha untuk hemat energi mode on.

Saat chek in saya meminta petugas untuk mencarikan tempat duduk yg dipinggir jalan, agar saya mudah ke kamar mandi. Dari Juanda saya terbang ke hongkong, perjalanan ini kurang lebih 5 jam. Alhamdulillah sampai Hongkong dengan selamat. Saya punya waktu istirahat sekitar 6 jam di Hongkong sebelum melanjutkan penerbangan. Ruang tunggunya lumayan sepi dan nyaman, maka saya gunakan waktu itu untuk makan dan istirahat bahkan lebih tepatnya tidur di ruang tunggu. Saya tidur di kursi tunggu yg panjang, meluruskan badan. Saya tak peduli kata orang, toh banyak tempat duduk kosong dan saya tidak mengenal orang disana. Kesalahan saya adalah saya tidak menaruh koper di bagasi, sehingga saat transit seperti ini memberatkan buat saya.

Penerbangan selanjutnya adalah dari hongkong ke Los Angeles, ini sekitar 12 jam. Selama perjalanan ini saya usahakan untuk tidur, tapi sangat lelah untuk tidur di pesawat. Saya gunakan untuk berdiri dan berjalan, sesekali juga menggerakkan tubuh agar ga terlalu capek.

Akhirnya saya mendarat di LA dengan selamat. Disini saya kesusahan karena terminalnya jauh dan saya bawa koper, koper ga terlalu besar bagi orang kebanyakan, tapi saya kopernya sangat berat. Saya masih harus terbang selama 5 jam ke Florida. Alhamdulillah tiba dengan selamat di Florida.

Saat perjalanan pulang saya belajar bahwa lebih baik koper ditaruh bagasi. Dan walaupun berpindah pesawat ternyata koper saya langsung diturunkan di Surabaya, jadi saya sangat bersyukur karena tak perlu mengambil koper saat transit. Hal ini mengurangi barang bawaan saya saat transit dan mempercepat periksaan ketika transit.

Selain itu juga saya memastikan untuk tetap makan. Saya tidak boleh egois. Walaupun makanan pesawat sangat tidak enak, saya memaksa makan, demi dedek.

Selama perjalanan saya tidak mual sama sekali baik saat berangkat maupun saat pulang. Namun Setibanya di Juanda setelah antri mengambil koper dan menuju pintu keluar saya mual dan muntah.

Saya sangat bersyukur karena dedek sangat kuat dan mampu melewati perjalan jauh ini. Sehat sehat ya Nak, mama menunggumu 😘😘😘