Masalah masyarakat

Kalau boleh mengibaratkan masalah masyarakat sebagai “anak yang mendapatkan surat”,

maka mencoba menyelesaaikan masalah dengan membangun fasilitas atau menyediakan aksesnya (cara yang paling sering kita lihat) ibarat “memberikan penerangan/menyediakan meja/memberi kaca mata” mereka tetap perlu fasilitas itu tetapi tidak menjamin si anak dapat membaca suratnya seperti itu pula masalah di masyarakat, mereka juga tetap perlu pembangunan infrastruktur tetapi jika hanya itu saja yang dilakukan juga belum tentu masalah teruraikan.

 

Maka mencoba menyelesaikan masalah dengan memberi bantuan langsung adalah ibarat “membacakan suratnya dan si anak akan terus mencari orang lain setiap kali ia mendapatkan surat” seperti itu pula masyarakat, selesai seketika masalahnya saat itu, tetapi ketika ia mempunyai masalah lagi maka ia tak bergerak lagi.(Untuk hal-hal yang urgent tetap perlu penyelesaian masalah dengan cara seperti ini)

Sedangkan jika mencoba menyelesaikan masalah dengan prinsip pemberdayaan dan keberlanjutan adaalah ibarat “mengajarinya huruf per huruf sampai ia bisa membaca suratnya sendiri”. Memang lama tapi bukankah itu bermakna lebih? “setiap dia mendapatkan surat ia bisa membacanya sendiri”.

 

Tentunya kita tetap harus bijak, mana-mana saja pendekatan program yang kita pilih. Tidak selalu melihatnya dari satu sudut tetapi melihat secara menyeluruh.

Advertisements

thankyou

Untukmu yang aku rindukan

 

Mungkin kita tidak lagi bersama

Egoku, keangkuhanku, kesombonganku, yang membuat ukhuwah ini tidak manis

Aku tidak tahu pasti kesalahan mana yang membuat kita seperti ini

Tapi aq tahu bahwa banyak salah yang q perbuat

Semoga engkau bersedia untuk berusaha memaafkanku

 

Mungkin kita tak lagi berinteraksi

Aku tahu mendengar namaku saja serasa sesak didadamu

aku tidak menghubungimu secara langsung, itu hanya karena aku takut menyakitimu.

Tetapi aq tetap ingin berterimakasih

Kaulah yang mengajariku banyak hal diatas ketidakbersamaan ini

Terimakasih untuk membuatku sadar bahwa tidak selayaknya aku menyalahkan, tidak selayaknya aku tidak perhatian, tidak selayaknya aku memberikan sindiran, tidak selayaknya aku malas bergerak, tidak selayaknya aku meninggalkan, tidak selayaknya aku acuh dan banyak hal yang tidak selayaknya dilakukan.

Aku selalu berharap, engkau dapat memberiku masukan yang pasti, mana yang harusnya q lakukan dan mana yang harusnya tidak lakukan. Mungkin aku tidak peka, tetapi aku tahu bahwa engkau sangat peka sehingga mengerti akan ketidakpekaanku. Tidak kah aku cukup mampu untuk menerima kritik dan saranmu?

aq tetap menganggapmu sebagai seseorang yang istimewa, percayalah….. Saudariku….

 

Selamat wisuda…..

 

 

Musi Banyuasin, 26 Maret 2015